Selasa, 28 November 2017

Briar Rose



Alkisah, dahulu hidup sepasang raja dan istrinya yang ingin punya seorang anak, namun mereka nggak kunjung dapat. Suatu hari, ketika ratu lagi mandi, seekor katak berenang mendatanginya dan berkata, “Permohonanmu akan dikabulkan. Kau akan punya anak sebelun satu tahun berlalu.”
          Ramalan katak itu ternyata terjadi. Sang ratu melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik bukan main. Raja jadi begitu bahagia dan akan meyelenggarakan pesta meriah. Dia nggak hanya mengundang orang-orang dekat saja, tapi juga para penyihir agar mereka mau doakan putri cantiknya. Di kerajaan ada tiga belas penyihir, namun raja cuma punya dua belas piring emas. Sehingga salah satu dari penyihir terpaksa nggak diundang.
          Pesta itu pun berlangsung meriah dan megah. Dan ketika pesta itu usai, para penyihir menghadiahi bayi perempuan itu. Ada yang beri kebajikan, ada yang beri kecantikan, ada yang beri kekayaan, dan begitu seterusnya. Hadiah-hadiah magis yang paling diinginkan orang di dunia.
          Ketika sebelas penyihir telah menyebutkan hadiahnya, tiba-tiba penyihir ke tiga belas yang nggak diundang, muncul. Dia datang dengan penuh amarah karena nggak diundang ke pesta. Kemudian, tanpa permisi dia berteriak lantang, “Pada saat ulang tahunnya yang kelima belas, putri akan menusuk jarinya dengan jarum pintal, lalu mati.” Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi, penyihir yang nggak diundang itu berbalik dan meninggalkan ruangan.
          Mereka semua yang hadir terpanah… dan khawatir. Namun, penyihir ke dua belas, yang hadiah magisnya belum diucapkan, melangkah maju. Karena dia nggak mampu mencegah mantra jahat itu, maka dia berkata, “Putri nggak akan mati. Dia hanya tertidur selama seratus tahun.”
          Raja begitu sedih mendengar ramalan untuk putrinya. Lalu dia perintahkan semya alat pintal yang ada di kerajaan harus dimusnakan.  Maka dibakarlah. Sementara itu, hadiah magis dari para penyihir memenuhi sang putri. Dia sangat cantik, baik, bijaksana dan sederhana, sehingga semua orang yang bertemu dengannya jadi suka.
          Bertahun-tahun berlalu, hingga sang putri menginjak usia lima belas tahun. Ketika itu, kebetulan sang raja dan ratu  sedang nggak ada di istana. Sang putri ditinggal di kastel sendirian. Dia berjalan-jalan mengelilingi istana, melihat setiap ruangan dan kamar, hingga dia sampai di menara tua. Kemudian putri memanjat tangga melingkar yang sempit hingga tiba di depan pintu tua. Ada kunci berkarat menempel di pintunya. Putri memutar kunci itu. Terbukalah pintu menunjukkan sebuah ruangan itu kecil. Di dalam ruangan itu duduk wanita tua di depan alat pintal.
          “Selamat siang, Nek,” kata sang putri. “Apa yang kau lakukan di sini?”
          “Aku sedang memintal,” jawab wanita tua.
          “Benda apa yang berderak-derah di hadapanmu?” tanya putri penasaran. Dia mendekati alat pintal itu, ingin coba. Namun begitu dia menyentuhnya, jarinya tertusuk jarum dan kutukan bertahun-tahun lalu terjadi juga.
          Putri terjatuh, dia nggak mati, dia tertidur, tertidur panjang. Seluruh istana ikut tertidur bersamanya, sang raja dan ratu yang baru pulang dan masuk kastil pun ikut tertidur. Kuda-kuda pun ikut tertidur pula, begitu juga anjing-anjing di halaman, merpati-merpati yang bertengger di atap, serta tikus-tikus di kolong. Bahkan api yang menyala di perapian jadi beku. Semuanya mendadak terhenti.
          Di sekeliling kastil mulai tumbuh tanaman rambal berduri, yang semakin tahun semakin lebat dan besar, hingga akhirnya melingkupi seluruh istana. Dan kisah tentang Briar Rose yang tertidur, tersebar ke seluruh dunia. Dari waktu ke waktu banyak pangeran datang dan berusaha menembus pagar berduri menuju istana.
          Namun sia-sia, tanaman duri itu saling berkait kembali ketika di tebas. Setiap kali pangeran terperangkap di dalamnya, mereka nggak bisa keluar dan mati mengenaskan.
          Sekian tahun berlalu amat cepat, seorang pangeran datang ke negeri itu karena dengar cerita dari seorang pak tua. “Aku tidak takut. Aku akan ke dalam untuk melihat putri yang cantik itu,” kata pangerang muda.
          Pak tua mencegahnya, tapi pengaran muda nggak gentar.
          Seratus tahun berlalu, sudah waktunya bagi Briar Rose untuk terbangun lagi. Ketika sang pangeran muda mulai memasuki istana, dia nggak melihat tanaman berburi itu, seperti yang dibilang orang-orang. Dia malah melihat bunga-bunga yang cantik, yang dengan anggunya melepaskan dirinya sendiri dan membiarkan pangeran masuk tanpa tersakiti. Setelah pangeran masuk, sulur-sulur tanaman itu saling terkait lagi.
          Di halaman istana, pangeran melihat kuda-kuda dan anjing-anjing yang tertidur. Di atap, dia melihat merpati-merpati yang seolah membatu. Dia terus berjalan ke dalam, dan semakin banyak melihat prajurit, anak-anak, orang tua, bahkan raja dan ratu, semuanya tertidur.
          Dia melangkah lebih jauh. Tempat itu begitu sunyi, hingga hela napas pun terdengar jelas. Dan akhirnya, pangeran tiba di pucuk menara. Dia membuka pintu dan menemukan ruang kecil tempat Briar Rose tertidur. Putri itu amat cantik, membuat sang pangeran terpesona.  Sang pangeran merunduk dan mencium Briar Rose hingga sang putri mebuka matanya, menatap pangeran dengan syahdu.
          Mereka dua turun bersama. Sang raja, ratu, prajurit, kuda-kuda, anjing-anjing, tikus-tikus, anaka-anak, semua orang yang tertidur di istana perlahan-lahan terbangun dari tidur panjangnya. Sulur-sulur tananam di perlahan-lahan menghilang ke dalam tanah. Semuanya kembali normal seperti sedia kala.
          Dan pada akhirnya, ya, happily ever after. Sang pangeran dan Briar Rose menikah dan bahagia selamanya.
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar